SURAKARTA, mediasapujagad.com.com – Rencana hajad dalem jumenengan nata Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakoe Boewono (PB) XIV di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat akhir pekan ini diharapkan menjadi momentum kebangkitan budaya Jawa.
Di tengah dinamika dan perbedaan pendapat di internal kerabat Keraton, masyarakat menilai sudah saatnya Keraton berbenah dan kembali pada peran utamanya sebagai pusat budaya dan kearifan lokal.
Ketua Umum Forum Budaya Mataram (FBM) sekaligus Ketua Umum Dewan Pemerhati dan Penyelamat Seni Budaya Indonesia (DPPSBI), BRM Dr Kusumo Putro SH MH, menilai konflik yang terjadi di tubuh Keraton seharusnya menjadi bahan introspeksi bersama, bukan justru memperlebar perpecahan.
“Sejarah panjang Keraton Surakarta telah memberi banyak pelajaran. Konflik perebutan tahta dan perbedaan pandangan sudah sering terjadi sejak masa Mataram Islam hingga kini.”
“Namun jika kita mau belajar dari sejarah, seharusnya kita bisa menempuh jalan yang lebih bijak,” ujarnya, Kamis (13/11).
Baca Juga: Tebar Perdamaian, Aliansi Masyarakat Kota Solo Targetkan Pasang 25.000 Stiker Joglosukun
Menurut Kusumo, para leluhur seperti Ki Ageng Pemanahan, Panembahan Senopati, hingga Sultan Agung Hanyokrokusumo membangun kejayaan Mataram bukan karena kekuasaan, melainkan karena ketekunan spiritual, etika, dan keinginan luhur menjaga harmoni kehidupan.
“Revitalisasi Keraton harus dimulai dengan menghidupkan kembali nilai-nilai luhur itu. Keraton bukan simbol politik, tapi pusat spiritual, sosial, dan kebudayaan. Kalau hal itu bisa dikembalikan, maka Keraton akan kembali bersinar sebagai cahaya budaya Nusantara,” katanya.
Ia menegaskan, kemajuan dan kemunduran Keraton bergantung pada kemampuan para penerusnya memahami nilai-nilai paugeran (tata aturan) dan tata krama yang diwariskan para leluhur.
Nilai-nilai itu bukan hukum tertulis, tetapi mengandung makna moral yang kuat untuk menjaga keseimbangan hidup.
Baca Juga: Forum Budaya Mataram Ajak Keluarga Keraton Bersatu Hadapi Suksesi, Hindari Kepentingan Pribadi
Kusumo berharap pemerintah daerah, pegiat budaya, dan masyarakat ikut mendukung revitalisasi fungsi Keraton sebagai pusat budaya.
Tidak hanya sebagai tempat upacara adat, tetapi juga ruang edukasi dan pelestarian nilai-nilai luhur Jawa.
“Solo dikenal sebagai kota budaya. Keraton Surakarta adalah jantungnya. Sudah seharusnya semua pihak bersatu, meninggalkan ego, dan menghidupkan kembali ruh kebudayaan Jawa agar bermanfaat bagi generasi muda,” tegasnya.
Lebih lanjut, Kusumo menambahkan, cita-cita besar yang harus diwujudkan bukan kejayaan kekuasaan, melainkan kejayaan budaya.
“Kejayaan masa depan Keraton bukan tentang siapa yang berkuasa, tapi siapa yang mampu menjaga dan meneruskan warisan luhur para pendiri Mataram,” tegasnya.
Editor: Setyo Utomo







