JAKARTA, mediasapukagad.com – Anggota DPR RI Komisi IX, Edy Wuryanto menilai pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) masih belum merata terutama di wilayah di wilayah terdepan, tertinggal, dan terluar (3T).
Hal itu disampaikan Edy Wur sapaan akrabnya, dalam rapat tersebut juga membahas percepatan pelaksanaan program gizi, khususnya di wilayah terdepan, tertinggal, dan terluar (3T), Selasa (20/1).
Hingga kini, masyarakat di wilayah 3T tersebut dinilai belum merasakan manfaat Program MBG secara optimal.
Menurut Edy, hingga saat ini distribusi MBG masih cenderung berjalan lancar di wilayah perkotaan, sementara banyak anak dan keluarga di daerah 3T masih kesulitan mengakses asupan nutrisi yang layak.
Baca Juga: Kasus Keracunan MBG Berulang, DPR Dorong Evaluasi Total dan Audit SPPG
“Anak-anak yang tinggal di pinggir hutan atau di wilayah perbatasan, asupan gizinya kurang. Sampai sekarang mereka hanya bisa melihat di media sosial pembagian MBG di kota. Ini tidak adil,” ujarnya.
Edy menegaskan setiap anak Indonesia berhak mendapatkan kehidupan yang sehat dan cerdas, tanpa memandang lokasi tempat tinggal.
Ia mengingatkan bahwa jika persoalan ketimpangan distribusi MBG di wilayah 3T tidak segera diselesaikan oleh BGN bersama pemerintah daerah, maka akan memunculkan protes terkait keadilan sosial.
“Kami harus melihat MBG BGN ini secara utuh, terutama bagaimana dampaknya kepada masyarakat. Lebih-lebih kepada masyarakat miskin dan yang menyentuh keadilan sosial. Ini yang harus menjadi perhatian penting,” katanya.
Baca Juga: Wabup Grobogan: MBG Bukan Soal Kenyang, Tapi Soal Memenuhi Standar Gizi
Ia menilai niat Presiden dalam menggulirkan Program Makan Bergizi Gratis sangat luhur, yakni untuk mengatasi persoalan nutrisi nasional.
Menurut Edy, masalah nutrisi, termasuk malnutrisi dan stunting, merupakan persoalan serius bangsa yang berdampak langsung pada kualitas kesehatan dan kecerdasan generasi masa depan.
“Malnutrisi paling buruk itu adalah stunting. Ini persoalan bangsa yang membuat rakyat kita tidak sehat dan tidak cerdas. BGN harus melihat itu secara utuh,” tandasnya.
Editor: Tanu Raga







