GROBOGAN, mediasapujagad.com – Upaya panjang penangkapan seekor kera liar yang meresahkan warga Desa Ngrandah, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan, akhirnya berakhir pada Minggu (16/11).
Setelah hampir sepuluh hari berkeliaran dan lolos dari berbagai jebakan, hewan tersebut berhasil ditangkap dengan strategi tidak biasa, yakni menggunakan seekor kucing sebagai pancingan.
Kera liar itu sejak 5 November 2025 berpindah-pindah dari satu wilayah ke wilayah lain, mulai dari RT 1 hingga RT 5 Dusun Ngrandah, kemudian bergerak ke Dusun Ganjing.
Bahkan, hewan itu sempat bergeser hingga wilayah Jambon dan mengobrak-abrik genting salah satu rumah warga di sana.
Mobilitasnya yang tinggi membuat proses pengejaran semakin sulit dilakukan.
Baca Juga: Sidak Harga Beras di Grobogan, Bapanas Pastikan Tak Ada yang Melebihi HET
Selama berkeliaran, kera tersebut kerap membuat ulah: memanjat atap rumah, mengambil jemuran, membongkar sampah, hingga mencuri makanan dari rumah warga.
Situasi itu membuat warga resah, terlebih karena kera tersebut cukup agresif saat didekati.
Kabid Pemadam Kebakaran Damkar Induk Purwodadi, Sulardi, mengungkapkan bahwa strategi penangkapan pada hari terakhir dilakukan dengan cara yang jarang digunakan untuk memasukkan seekor kucing ke dalam peti perangkap sebagai pemancing.
“Ide memasukkan pancingan kucing digunakan ketika kera liar itu sempat menculik seekor kucing sebelumnya. Kucing itu kemudian dijadikan umpan dengan dimasukkan ke dalam peti perangkap,” ujar Sulardi.
Kucing tersebut terus mengeong, menarik perhatian kera liar yang sejak pagi dipantau gerak-geriknya.
Ketika kera itu masuk ke dalam peti, dua tali pemicu yang dipegang warga dari tempat persembunyian langsung ditarik.
Baca Juga: Tiga Kali Upaya Penangkapan Kera Liar Gagal, Padahal Sudah Gandeng BPSDA Rembang
“Alhamdulillah akhirnya kera liar itu tertangkap,” ucapnya bersyukur.
Penangkapan ini merupakan akhir dari rangkaian upaya yang telah dilakukan sejak awal November.
Damkar Induk Purwodadi sudah tiga kali memasang perangkap berisi makanan, namun kera tersebut selalu lolos.
Bahkan ketika sempat masuk perangkap, hewan itu tidak menyentuh umpan yang diikat dengan tali pemicu dan kembali keluar tanpa memicu jebakan.
“Kayaknya monyetnya sudah paham. Tadi sempat masuk jebakan, tapi belum sempat nyenggol tali sudah kabur keluar kandang,” ungkap Sulardi pada upaya sebelumnya.
Karena proses yang berlarut-larut, tiga regu petugas damkar bergantian berjaga-jaga setiap hari di Desa Ngrandah.
Damkar juga menggandeng Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Rembang untuk mengatur strategi penangkapan.
Lokasi yang memiliki banyak rumpun bambu membuat pergerakan kera semakin gesit dan sulit diprediksi. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi petugas.
Pada penangkapan terakhir, warga ikut terlibat dengan memegang tali pemicu dari balik tempat persembunyian.
Mereka mengikuti instruksi petugas dan mengawasi pergerakan kera dengan sangat hati-hati.
Kepala Desa Ngrandah, Sri Untari Handayani, sebelumnya menyebutkan bahwa warga mulai khawatir karena kera terus berpindah dari satu dusun ke dusun lain dan merusak fasilitas rumah.
“Warga berharap kera itu segera ditangkap karena sudah sangat meresahkan,” ujarnya.
Setelah berhasil ditangkap, kera liar itu langsung diamankan dan dipastikan tidak mengalami luka.
Selanjutnya, hewan tersebut akan diserahkan kepada BKSDA Rembang untuk penanganan lebih lanjut.
Dengan berakhirnya operasi penangkapan ini, warga Desa Ngrandah kini bisa kembali beraktivitas dengan tenang setelah hampir dua pekan hidup dalam keresahan akibat ulah kera liar tersebut.
Editor: Setyo Utomo







